Perekonomian indonesia
secara global
Keterbatasan sumber
daya alam menjadi alasan mengapa indonesia melakukan eksport-import ke negara
lain. Indonesia sebagai negara berkembang meskipun kaya akan bahan mentah
contohnya minyak bumi, namun indonesia tidak dapat mengelola bahan tersebut
karena keterbatasan alat dan teknologi yang di miliki oleh negara lain, ibarat
tubuh ”indonesia mampu menjadi syaraf namun tak dapat menjadi kerangka”.
Di sisi lain pemerintah
hanya bisa berdalil tak memikirkan kesejahteraan rakyat, akibatya rakyat
sendirilah yang menjadi korban, banyak rakyat miskin, pengangguran karena
kurangnya lapangan pekerjaan, harga kebutuhan konsumsi semakin melambumg,
sedangkan pendapatan yang di hasilkan kurang mencukupi kebutuhan hidup, namun
banyak koruptor yang menyalah gunakan uang rakyat, rakyat seharusnya menikmati
haknya justu menjadi imbas para pemimpin yang memperkaya harta dengan merampas
hak rakyat. Kenyataannya indonesia sendiri hutang ke negara lain malah
meningkat, bukan menuju perubahan yg lebih baik justru makin terpuruk. Kadang
negara ini pun tidak adil, hukuman bukan sarana memberi keadilaan memberikan
efek jera, semua itu dapat di beli dengan uang. “Pemimpin” lepas rakyat kecil
makin tertindas.
Kesejahteraan rakyat
tidak lepas dari siapa pemimpinya, karena setiap pemimpin seharusnya mempunyai
peranan penting dalam mensejahterakan rakyat. Sebagai bentuk pengorbanan rakyat
kecil para pahlawan devisa, berjuang mempertaruhkan keselamatannya demi
keluarga dan negri tercinta. Banyak di antara mereka yang merasakan kerasnya
merantau di negri orang, siksaan, pemerkosaan bahkan pembunuhan, bukan suatu
hal yang asing lagi bagi mereka.
Di sisi lain Indonesia
tidak mempunyai identitas diri di hadapan bangsa-bangsa lain, Indonesia bukan
saja tidak mampu melindungi alamnya dari modal asing tapi juga tidak mampu
melindungi rakyatnya yang bekerja di Negara-Negara lain.
Selain itu tujuan
pemerintah adalah meningkatkan taraf bagi masyarakatnya, banyak di antara
mereka yang hidup dalam garis kemiskinan,busung lapar, kurang gizi adalah salah
satu bukti bahwa negara tesebut miskin. Lain halnya dengan Amerika mereka tidak
menginginkan raskyatnya mengalami busung lapar, kurang gizi karena menurut
mereka, rakyat adalah asset negara yang harus diperhatikan. seharusnya kita
sebagai bangsa yang memiliki satu kesatuan mempunyai jiwa kepemilikan bertanah
air indonesia, bangkit bersatu padu dalam membangun masyarakat demi terciptanya
suatu kesejahteraan, rakyat sejahtera apabila rakyat jauh dari kemiskinan,
kebutuhan ekonomi tercukupi, sandang pangan terpenuhi.
Namun kendala
kepemerintahan adalah tingkat kelahiran yang tinggi, tingkat kematian tinggi
serta migrasi-migrasi dari daerah yang berpindah ke ibukota, sebagai pusat Ibu
kota Indonesia, Jakarta memiliki kepadatan penduduk yang cukup drastis. Itu
salah satu penghambat bagi kepemerintahan untuk membangun negri ini, semakin
sempitnya lapangan pekerja di sebabkan oleh hal tersebut. Program pemerintah
rupanya sedikit menuakan hasil, menghimbau para migrasi yang tidak memiliki
pekerjaan tetap di Jakarta untuk kembali ke daerah asalnya dengan memberikan
peluang kerja membuka industri kecil di setiap daerah tersebut seperti industri
rumahan, kerajinan, dan konveksi milik rakyat dengan jaminan pinjaman dari
koperasi milik pemerintah. Suatu peluang yang baik bagi masyarakat.
Tidak lepas dari
kurangnya lapangan pekerjaan, pemerintah di sodorkan kembali masalah menenai kehidupan
jalan para pengemis yang sebagian besar adalah anak-anak, penyandang cacat,
serta mereka yang berusia senja, bahkan sekarang meningkatnya ganguan kejiwaan
karena mungkin masalah ekonomi pula. Terdapatnya panti rehabilitasi itupun
sudah menampung banyak orang, namun karena tidak terprogramnya suatu rencana
pemerintah, hal tersebut menjadi pandangan yang lumrah, padahal hal yang
sepelepun akan menjadi masalah apabila pemerintah terlalu lengah, lain halnya
anak-anak yang meminta-minta, mereka para orang tua memanfaatkan anaknya untuk
meminta-minta di jalan demi mendapatkan kepingan-kepingan rupiah, padahal itu
berbahaya bagi keselamatannya, dan tempat mereka seharusnya di bangku sekolah
sama seperti anak-anak sebayanya, lagi-lagi mereka para orang tua tak
menghiraukan hal tersebut. Ini menjadi sorotan betapa susahnya membangun negri,
mensejahterakan rakyatnya, mendidik anak bangsa, mereka adalah para penerus
bangsa, pembangun negri, bukan hanya tahta yang pemerintah gapai namun
dengarkanlah suara rakyat bicara.
Indonesia dulu
kesejahteraan rakyatnya saat kerajaan majapahit begitu tumpah ruah, tak ada
rakyat yang miskin, sandang pangan tercukupi, hasil ladang melimpah, malah
mereka menolak untuk di beri dan di kasihani, menurut mereka di beri sama saja
merendahkan harga diri mereka. Tapi tidak untuk saat ini banyak tanah rakyat
yang di rampas oleh Negara, yang mengakibatkan petani kehilangan mata
pencaharianya..
Kapan Indonesia akan
kembali pada masa itu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar